Cerpen~
Hi readers i'm come back! Okay kali ini aku mau ngepost cerpen perdanaku :v enjoy it! jangan lupa comment yaah ;)
Hari ini adalah hari Senin, sekolah kami mengadakan upacara yang dimulai pada pukul 6.30. Seperti bisa, Raka selalu menjemputku untuk berangkat sekolah bersama. Namun hari ini tak seperti biasanya, waktu menunjukkan pukul 6.25 tetapi Raka belum datang juga, “Astaga! Udah jam segini Raka belum datang juga? 5 menit lagi masuk niih,” kataku gelisah. Berkali-kali aku menelfon Raka tapi nomernya tidak aktif.
Segitiga, Menjadi Bersama
Namaku
Shani, aku adalah seorang peajar SMP yang baru berumur 14 tahun. Aku bersekolah
di SMP 4 Pakem. Setiap orang di dunia pasti mempunyai seorang sahabat, baik
perempuan atau laki-laki. Aku pun juga mempunyai seorang sahabat, ia bernama Raka.
Raka adalah sahabatku sejak kecil. Baik, cuek, supel, jail, pinter, dan sok serius, itulah Raka. Dialah yang
merubahku menjadi seorang cewek yang sedikit tomboy. Kini kami berdua kelas 3
dan kami selalu satu kelas. Kedua orang tuaku sangat dekat dengan kedua orang
tua Raka, layaknya saudara. Dari kecil kami memang sering ditinggal orang tua
kami bekerja, kami pernah tinggal serumah dan hanya ditemani seorang pembantu
karena ditinggal kerja.
Hari ini adalah hari Senin, sekolah kami mengadakan upacara yang dimulai pada pukul 6.30. Seperti bisa, Raka selalu menjemputku untuk berangkat sekolah bersama. Namun hari ini tak seperti biasanya, waktu menunjukkan pukul 6.25 tetapi Raka belum datang juga, “Astaga! Udah jam segini Raka belum datang juga? 5 menit lagi masuk niih,” kataku gelisah. Berkali-kali aku menelfon Raka tapi nomernya tidak aktif.
10 menit kemudian, aku melihat dari
kejauhan seorang laki-laki berseragam sedang menuntun sepeda, ternyata ia adalah
Raka, “Rakaaa,” teriakku sambil berlari mendekati Raka. Dengan keringat
bercucuran dan nafas tersenggah-senggah Raka meminta maaf padaku dan
menjelaskan semua kejadian yang telah terjadi, “Shanii, maafin aku ya, aku ngga bisa jemput kamu tepat waktu,” katanya
sambil menarik nafas “Memangnya apa yang sebenarnya terjadi, Ka ?” tanyaku
heran. “Jadi begini, tadi aku bangun
kesiangan gara-gara nonton film dan hari ini
pembantuku, Mbok Ijah lagi pulang kampung dan di rumah aku hanya bersama
kakakku. Tau sendirikan kan kakakku
paling nggak mau kalau aku mintain
tolong nyiapin perlengakapan sekolahku. Terus tadi rantai sepedaku juga lepas,
jadi aku harus memperbaikinya. Sorry banget
ya, Shan,” kata Raka panjang lebar. “Yaelah, kamu sih semalam pake nonton film
segala. Yaudah-yaudah nggakpapa, aku
maafin kamu. Sekarang ayo buruan kita kesekolah, udah jam 6.45 nih !” seruku. “Siaap, Non!” katanya
sambil cengengesan.
Pukul 7.10 kami baru sampai di sekolah. Saat
kami sampai di sekolah kami langsung menuju ke ruang piket, saat itu kami
langsung disuruh untuk bertemu dengan guru BK. Guru BK kami adalah guru yang
sangat tegas dan disiplin, karena terlalu tegas dan disiplin sampai-sampai guru
BK kami ini seperti tidak mempunyai hati. Walaupun kami telah menceritakan
semua kejadian yang sebenarnya, Guru BK kami tidak memberi keringanan pada kami.
Akhirnya kami berdua dihukum. “Maafkan kami, Bu. Kami mengaku salah dan tidak
akan mengulanginya lagi,” Kataku dan Raka. “Baiklah, saya maafkan. Sekarang
kalian berdua bersihkan kamar mandi sekolah setelah itu kalian berdiri dan hormat
di depan tiang bendera,” Kata Bu Guru. “Haaa?!” teriakku. “Sstt, Shani. Udah
kerjain aja,” Kata Raka sambil menyenggol tanganku.
Di sekolah kami terdapat 15 kamar mandi,
dan kami baru membersihkan 8 kamar mandi. “Untung ya kita ngga diawasi sama Bu BK,” cetus Raka. “Hmm iya sih,” jawabku dengan
nada lemas, “Shan, kamu baik-baik saja kan ya?” tanya Raka sambil menatapku,
“Emm, aku ngga kenapa-kenapa kok! Ayo cepat kita selesaikan supaya hukuman cepat
selesai,” jawabku. “Sudah Shani. Sisanya aku saja yang membersihkan, kamu
istirahat saja ya. Wajahmu pucat, Shan,” seru Raka sambil memegang pundakku.
Setelah selesai menyelesaikan hukuman
pertama, hukuman terakhir pun sudah menunggu. Kami berdua langsung menuju
lapangan upacara, di sana guru BK sudah lama menanti kami. “Ayo cepat ke sini.
Setelah itu kalian boleh mengikuti pelajaran”. Kami berdua langsung berdiri dan
hormat di depan tiang bendera. Hari ini cuaca sangat tidak bersahabat dengan
kami. Matahari bersinar sangat terik, seperti berada tepat di atas kepala.
Sudah 15 menit aku berdiri. Kepalaku terasa
berat, semua yang ku lihat berubah menjadi berwarna kuning dan semakin lama
berubah menjadi abu-abu. Tiba-tiba datang seorang laki-laki, aku tak begitu
memperhatikan wajahnya tetapi yang jelas ia bukan Raka.
--oo--
“Kamu udah baikan?” tanya seorang laki-laki
yang belum aku ketahui identitasnya. “Masih sedikit pusing. Ini di UKS ya? Tadi
aku kenapa?” tanyaku bingung, “Kamu tadi pingsan tauu..” jawabnya. “Raka mana?” tanyaku, “Tuh dia di kelas,” sambil
memandang ke arah kelas, “Dasar anak pintar,” kataku dalam hati kesal. Laki-laki
itu menemaniku di UKS hingga jam pelajaran usai. Ternyata laki-laki itu bernama
Rian. Dia adalah anak baru, tetapi sebenarnya dia sudah 1 bulan bersekolah di
SMP 4 Pakem, karena kelas kami berbeda sehingga aku baru mengenalinya sekarang.
Rian memiliki postur badan yang tinggi, dia orang yang baik, bisa dibilang
ganteng dan dia mengenakan kaca mata. Aku merasakan sesuatu yang tidak biasa
dan pertama kali aku rasakan, sepertinya aku memiliki rasa simpati pada Rian,
tapi entahlah aku masih tidak mengerti.
Bel pulang pun brbunyi, Raka menjemputku di
UKS. “Shani udah baikan?” tanyannya penuh kekhawatiran, “Udah. Kamu kemana saja?”
tanyaku kesal, “Aku di kelas. Ini udah aku tulisin semua tugas yang harus
dikerjakan” jawabnya sambil tersenyum. Saat aku dan Raka akan pulang, tiba-tiba
Rian menghampiri kami berdua. Rian berkata padaku, dia ingin mengantarkanku
pulang dengan motornya. Setelah ijin kepada Raka, aku menerima ajakannya.
Sepertinya, Raka masih keberatan jika aku pulang bersama Rian.
--oo—
Sesampainya di rumah Raka langsung
menghampiriku, dia mengajakku untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru
kami. Salah satu tugas kami berasal dari guru Bahasa Indonesia, yaitu
musikalisasi puisi.
Aku dan Raka mempunyai sebuah taman di
dekat rumahku. Di taman, kami mempunyai rumah pohon. Sejak kecil hingga
sekarang, kami belajar, bermain,
mengerjakan tugas bersama di rumah pohon tersebut. “Raka, puisimu sudah jadi
belum?” tanyaku “Belum, memangnya ada apa?” tanya Raka heran, “Boleh lihat?
Hehehe” sahutku sambil melirik ke arah Raka, “Enggak boleh lah! Kan harus
membuat sendiri, Shani” jawabnya dengan nada sok serius, “Yasudah” kataku. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ternyata ada satu pesan baru dari Rian “Hai,
Shani. Mau nggak aku ajak
jalan-jalan? Rian” aku sangat terkejut membaca pesan dari Rian. Tiba-tiba Raka
menepuk pundakku, aku pun terkejut “Apa-apaan sih, Raka bikin kaget saja,”
seruku, “SMS dari siapa?” tanyanya sambil melirik ke arah handphone, “Ada deh. Udah ya aku ada acara, nih. Nanti tugasnya aku
selesaikan di rumah!” seruku pada Raka, “Shani jangan pergi! Selesain dulu dong tugasnya! Besok kena hukuman lagi,
lho!” teriak Raka padaku.
--oo—
Esok harinya saat istirahat, aku dan Raka
sedang melanjutkan mengerjakan tugas Bahasa Indonesia di taman sekolah. Saat
itu Rian datang menghampiriku.
“Shani. Ada suatu hal yang ingin ku
bicarakan padamu” kata Rian.
“Ya? Ada apa?” jawabku.
“Kamu mau tidak menjadi pacarku?” lanjutnya.
“Haaa?! Kamu bercanda ya?” tanyaku.
“I’m serious,
Shani” jawab Rian.
“Maaf ya Rian, aku belum bisa jawab
sekarang” jawabku pada Rian. Aku langsung pergi meninggalkan Rian. “Mungkin aku
akan menolak permintaan Rian. Aku tidak ingin menyakiti Raka, sahabatku. Walau
sebenarnya aku ingin menerima Rian” bisikku dalam hati.
--oo--
Sepulang sekolah, aku dan Raka kembali
melanjutkan tugas Bahasa Indonesia di rumah pohon. “Shan, tadi kenapa
permintaan Rian tidak kamu jawab?” tanya
Raka “Tidak kenapa-kenapa, Raka” jawabku sambil tersenyum. Saat itu suasana
sempat menjadi hening. Tiba-tiba Raka menyanyikan sebuah lagu, lagu itu adalah
puisi miliknya. Puisi itu menceritakan semua tentang perasaannya pada seorang
perempuan.
Awalnya aku tidak mengerti apa maksud dari
semua yang Raka lakukan. Ternyata lewat puisi yang ia jadikan tugas Bahasa
Indonesianya, ia mencurahkan semua isi
hatinya dan perasaannya padaku selama ini. Raka sahabatku, menyayangiku lebih
dari seorang sahabat. Mengetahui semua itu, aku sangat-sangat terkejut. Kini
aku dihadapkan oleh dua pilihan. “Raka, apa benar semua tadi adalah apa yang
telah kamu rasaka selama ini padaku?” tanyaku sambil menatap Raka. “Iya Shani.
Selama ini aku menyimpan rasa padamu, aku sayang sama kamu. Bagaimana denganmu?”
jawabnya. “Aku nggak bisa memberimu
jawaban sekarang,” aku pun langsung pergi meninggalkan Raka sendirian.
--oo--
Keesokan harinya aku sengaja berangkat
kesekolah duluan tanpa menunggu Raka menjemputku. Aku mengirim sebuah pesan
singkat pada Raka dan Rian “Temui aku di rumah pohon sepulang sekolah.”
Sepulang sekolah aku langsung menuju ke
rumah pohon menunggu Raka dan Rian. 5 menit kemudian Raka datang, kemudia
disusul oleh Rian.
“Lho kamu ngapain ke sini?” tanya Raka pada
Rian.
“Shani sendiri yang menyuruhku datang ke
sini. Kamu sendiri ngapain?” jawab Rian kesal.
“Bukan urusanmu!” balas Raka.
“Raka, Rian! Udah deh, kalian bukan anak
kecil lagi!” selaku. Akhirnya mereka berdua diam. Saatnya aku memulai
pembicaraan “Raka, Rian. Maksudku menyuruh kalian datang kemari adalah aku
ingin menjawab permintaan kalian beberapa hari yang lalu yang kalian sampaikan
padaku,” jelasku. “Rian, sebelumnya sorry
banget, aku nggak bisa menerima
permintaanmu untuk menjadi pacarmu. Aku menolakmu karena aku tidak ingin
menyakiti Raka.Tetapi aku akan menerimamu bila kamu memintaku untuk menjadi
sahabatmu,” jelasku pada Rian dengan senyuman. Mendengar jawabanku, Rian sempat
merasa tidak terima. Tetapi sepertinya lama-lama Rian mulai mengerti. Kini
untuk Raka “Raka, maafin aku juga ya.
Aku ngga bisa menerima permintaanmu.
Dari dulu hingga saat ini aku hanya menganggapmu sebagai sahabat, tidak lebih.
Aku hanya ingin kita bisa menjadi sahabat selamanya. Dan satu lagi aku ingin
kita bertiga menjadi sahabat,” jelasku lagi penuh senyuman.
Aku mengerti, pasti sempat ada rasa sakit
yang mereka rasakan. Tetapi aku tidak ingin mempersulit dan memperpanjang
masalah. Aku hanya ingin aku, Raka, dan Rian menjadi sahabat. Dulu kami bagai
segitiga, dimana Raka menyukaiku, aku menyukai Rian, dan Rian juga menyukaiku.
Kini aku memutuskan untuk menghentikan segitiga pembawa masalah ini. Pada
akhirnya kami bertiga pun akan bersama selamanya.
-ending yg rada alay -_-
