Sabtu, 14 Februari 2015

Hi readers i'm come back! Okay kali ini aku mau ngepost cerpen perdanaku :v enjoy it! jangan lupa comment yaah ;)
Segitiga, Menjadi Bersama

Namaku Shani, aku adalah seorang peajar SMP yang baru berumur 14 tahun. Aku bersekolah di SMP 4 Pakem. Setiap orang di dunia pasti mempunyai seorang sahabat, baik perempuan atau laki-laki. Aku pun juga mempunyai seorang sahabat, ia bernama Raka. Raka adalah sahabatku sejak kecil. Baik, cuek, supel, jail, pinter, dan sok serius, itulah Raka. Dialah yang merubahku menjadi seorang cewek yang sedikit tomboy. Kini kami berdua kelas 3 dan kami selalu satu kelas. Kedua orang tuaku sangat dekat dengan kedua orang tua Raka, layaknya saudara. Dari kecil kami memang sering ditinggal orang tua kami bekerja, kami pernah tinggal serumah dan hanya ditemani seorang pembantu karena ditinggal kerja.

Hari ini adalah hari Senin, sekolah kami mengadakan upacara yang dimulai pada pukul 6.30. Seperti bisa, Raka selalu menjemputku untuk berangkat sekolah bersama. Namun hari ini tak seperti biasanya, waktu menunjukkan pukul 6.25 tetapi Raka belum datang juga, “Astaga! Udah jam segini Raka belum datang juga? 5 menit lagi masuk niih,” kataku gelisah. Berkali-kali aku menelfon Raka tapi nomernya tidak aktif.
10 menit kemudian, aku melihat dari kejauhan seorang laki-laki berseragam sedang menuntun sepeda, ternyata ia adalah Raka, “Rakaaa,” teriakku sambil berlari mendekati Raka. Dengan keringat bercucuran dan nafas tersenggah-senggah Raka meminta maaf padaku dan menjelaskan semua kejadian yang telah terjadi, “Shanii, maafin aku ya, aku ngga bisa jemput kamu tepat waktu,” katanya sambil menarik nafas “Memangnya apa yang sebenarnya terjadi, Ka ?” tanyaku heran. “Jadi begini, tadi aku bangun kesiangan gara-gara nonton film dan hari ini pembantuku, Mbok Ijah lagi pulang kampung dan di rumah aku hanya bersama kakakku. Tau sendirikan kan kakakku paling nggak mau kalau aku mintain tolong nyiapin perlengakapan sekolahku. Terus tadi rantai sepedaku juga lepas, jadi aku harus memperbaikinya. Sorry banget ya, Shan,” kata Raka panjang lebar. “Yaelah, kamu sih semalam pake nonton film segala. Yaudah-yaudah nggakpapa, aku maafin kamu. Sekarang ayo buruan kita kesekolah, udah jam 6.45 nih !” seruku. “Siaap, Non!” katanya sambil cengengesan.
Pukul 7.10 kami baru sampai di sekolah. Saat kami sampai di sekolah kami langsung menuju ke ruang piket, saat itu kami langsung disuruh untuk bertemu dengan guru BK. Guru BK kami adalah guru yang sangat tegas dan disiplin, karena terlalu tegas dan disiplin sampai-sampai guru BK kami ini seperti tidak mempunyai hati. Walaupun kami telah menceritakan semua kejadian yang sebenarnya, Guru BK kami tidak memberi keringanan pada kami. Akhirnya kami berdua dihukum. “Maafkan kami, Bu. Kami mengaku salah dan tidak akan mengulanginya lagi,” Kataku dan Raka. “Baiklah, saya maafkan. Sekarang kalian berdua bersihkan kamar mandi sekolah setelah itu kalian berdiri dan hormat di depan tiang bendera,” Kata Bu Guru. “Haaa?!” teriakku. “Sstt, Shani. Udah kerjain aja,” Kata Raka sambil menyenggol tanganku.
Di sekolah kami terdapat 15 kamar mandi, dan kami baru membersihkan 8 kamar mandi. “Untung ya kita ngga diawasi sama Bu BK,” cetus Raka. “Hmm iya sih,” jawabku dengan nada lemas, “Shan, kamu baik-baik saja kan ya?” tanya Raka sambil menatapku, “Emm, aku ngga kenapa-kenapa kok! Ayo cepat kita selesaikan supaya hukuman cepat selesai,” jawabku. “Sudah Shani. Sisanya aku saja yang membersihkan, kamu istirahat saja ya. Wajahmu pucat, Shan,” seru Raka sambil memegang pundakku.
Setelah selesai menyelesaikan hukuman pertama, hukuman terakhir pun sudah menunggu. Kami berdua langsung menuju lapangan upacara, di sana guru BK sudah lama menanti kami. “Ayo cepat ke sini. Setelah itu kalian boleh mengikuti pelajaran”. Kami berdua langsung berdiri dan hormat di depan tiang bendera. Hari ini cuaca sangat tidak bersahabat dengan kami. Matahari bersinar sangat terik, seperti berada tepat di atas kepala.
Sudah 15 menit aku berdiri. Kepalaku terasa berat, semua yang ku lihat berubah menjadi berwarna kuning dan semakin lama berubah menjadi abu-abu. Tiba-tiba datang seorang laki-laki, aku tak begitu memperhatikan wajahnya tetapi yang jelas ia bukan Raka.
--oo--
“Kamu udah baikan?” tanya seorang laki-laki yang belum aku ketahui identitasnya. “Masih sedikit pusing. Ini di UKS ya? Tadi aku kenapa?” tanyaku bingung, “Kamu tadi pingsan tauu..” jawabnya. “Raka mana?” tanyaku, “Tuh dia di kelas,” sambil memandang ke arah kelas, “Dasar anak pintar,” kataku dalam hati kesal. Laki-laki itu menemaniku di UKS hingga jam pelajaran usai. Ternyata laki-laki itu bernama Rian. Dia adalah anak baru, tetapi sebenarnya dia sudah 1 bulan bersekolah di SMP 4 Pakem, karena kelas kami berbeda sehingga aku baru mengenalinya sekarang. Rian memiliki postur badan yang tinggi, dia orang yang baik, bisa dibilang ganteng dan dia mengenakan kaca mata. Aku merasakan sesuatu yang tidak biasa dan pertama kali aku rasakan, sepertinya aku memiliki rasa simpati pada Rian, tapi entahlah aku masih tidak mengerti.
Bel pulang pun brbunyi, Raka menjemputku di UKS. “Shani udah baikan?” tanyannya penuh kekhawatiran, “Udah. Kamu kemana saja?” tanyaku kesal, “Aku di kelas. Ini udah aku tulisin semua tugas yang harus dikerjakan” jawabnya sambil tersenyum. Saat aku dan Raka akan pulang, tiba-tiba Rian menghampiri kami berdua. Rian berkata padaku, dia ingin mengantarkanku pulang dengan motornya. Setelah ijin kepada Raka, aku menerima ajakannya. Sepertinya, Raka masih keberatan jika aku pulang bersama Rian.
--oo—
Sesampainya di rumah Raka langsung menghampiriku, dia mengajakku untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru kami. Salah satu tugas kami berasal dari guru Bahasa Indonesia, yaitu musikalisasi puisi.
Aku dan Raka mempunyai sebuah taman di dekat rumahku. Di taman, kami mempunyai rumah pohon. Sejak kecil hingga sekarang, kami belajar,  bermain, mengerjakan tugas bersama di rumah pohon tersebut. “Raka, puisimu sudah jadi belum?” tanyaku “Belum, memangnya ada apa?” tanya Raka heran, “Boleh lihat? Hehehe” sahutku sambil melirik ke arah Raka, “Enggak boleh lah! Kan harus membuat sendiri, Shani” jawabnya dengan nada sok serius, “Yasudah” kataku. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ternyata ada satu pesan baru dari Rian “Hai, Shani. Mau nggak aku ajak jalan-jalan? Rian” aku sangat terkejut membaca pesan dari Rian. Tiba-tiba Raka menepuk pundakku, aku pun terkejut “Apa-apaan sih, Raka bikin kaget saja,” seruku, “SMS dari siapa?” tanyanya sambil melirik ke arah handphone, “Ada deh. Udah ya aku ada acara, nih. Nanti tugasnya aku selesaikan di rumah!” seruku pada Raka, “Shani jangan pergi! Selesain dulu dong tugasnya! Besok kena hukuman lagi, lho!” teriak Raka padaku.
--oo—
Esok harinya saat istirahat, aku dan Raka sedang melanjutkan mengerjakan tugas Bahasa Indonesia di taman sekolah. Saat itu Rian datang menghampiriku.
“Shani. Ada suatu hal yang ingin ku bicarakan padamu”  kata Rian.
“Ya? Ada apa?” jawabku.
“Kamu mau tidak menjadi pacarku?” lanjutnya.
“Haaa?! Kamu bercanda ya?” tanyaku.
I’m serious, Shani” jawab Rian.
“Maaf ya Rian, aku belum bisa jawab sekarang” jawabku pada Rian. Aku langsung pergi meninggalkan Rian. “Mungkin aku akan menolak permintaan Rian. Aku tidak ingin menyakiti Raka, sahabatku. Walau sebenarnya aku ingin menerima Rian” bisikku dalam hati.
--oo--
Sepulang sekolah, aku dan Raka kembali melanjutkan tugas Bahasa Indonesia di rumah pohon. “Shan, tadi kenapa permintaan  Rian tidak kamu jawab?” tanya Raka “Tidak kenapa-kenapa, Raka” jawabku sambil tersenyum. Saat itu suasana sempat menjadi hening. Tiba-tiba Raka menyanyikan sebuah lagu, lagu itu adalah puisi miliknya. Puisi itu menceritakan semua tentang perasaannya pada seorang perempuan.
Awalnya aku tidak mengerti apa maksud dari semua yang Raka lakukan. Ternyata lewat puisi yang ia jadikan tugas Bahasa Indonesianya,  ia mencurahkan semua isi hatinya dan perasaannya padaku selama ini. Raka sahabatku, menyayangiku lebih dari seorang sahabat. Mengetahui semua itu, aku sangat-sangat terkejut. Kini aku dihadapkan oleh dua pilihan. “Raka, apa benar semua tadi adalah apa yang telah kamu rasaka selama ini padaku?” tanyaku sambil menatap Raka. “Iya Shani. Selama ini aku menyimpan rasa padamu, aku sayang sama kamu. Bagaimana denganmu?” jawabnya. “Aku nggak bisa memberimu jawaban sekarang,” aku pun langsung pergi meninggalkan Raka sendirian.
--oo--
Keesokan harinya aku sengaja berangkat kesekolah duluan tanpa menunggu Raka menjemputku. Aku mengirim sebuah pesan singkat pada Raka dan Rian “Temui aku di rumah pohon sepulang sekolah.”
Sepulang sekolah aku langsung menuju ke rumah pohon menunggu Raka dan Rian. 5 menit kemudian Raka datang, kemudia disusul oleh Rian.
“Lho kamu ngapain ke sini?” tanya Raka pada Rian.
“Shani sendiri yang menyuruhku datang ke sini. Kamu sendiri ngapain?” jawab Rian kesal.
“Bukan urusanmu!” balas Raka.
“Raka, Rian! Udah deh, kalian bukan anak kecil lagi!” selaku. Akhirnya mereka berdua diam. Saatnya aku memulai pembicaraan “Raka, Rian. Maksudku menyuruh kalian datang kemari adalah aku ingin menjawab permintaan kalian beberapa hari yang lalu yang kalian sampaikan padaku,” jelasku. “Rian, sebelumnya sorry banget, aku nggak bisa menerima permintaanmu untuk menjadi pacarmu. Aku menolakmu karena aku tidak ingin menyakiti Raka.Tetapi aku akan menerimamu bila kamu memintaku untuk menjadi sahabatmu,” jelasku pada Rian dengan senyuman. Mendengar jawabanku, Rian sempat merasa tidak terima. Tetapi sepertinya lama-lama Rian mulai mengerti. Kini untuk Raka  “Raka, maafin aku juga ya. Aku ngga bisa menerima permintaanmu. Dari dulu hingga saat ini aku hanya menganggapmu sebagai sahabat, tidak lebih. Aku hanya ingin kita bisa menjadi sahabat selamanya. Dan satu lagi aku ingin kita bertiga menjadi sahabat,” jelasku lagi penuh senyuman.


Aku mengerti, pasti sempat ada rasa sakit yang mereka rasakan. Tetapi aku tidak ingin mempersulit dan memperpanjang masalah. Aku hanya ingin aku, Raka, dan Rian menjadi sahabat. Dulu kami bagai segitiga, dimana Raka menyukaiku, aku menyukai Rian, dan Rian juga menyukaiku. Kini aku memutuskan untuk menghentikan segitiga pembawa masalah ini. Pada akhirnya kami bertiga pun akan bersama selamanya.

-ending yg rada alay -_-

Blooming Daffodil . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates